Pendidikan Anak Usia Dini

Masyarakat makin menyadari betapa pentingnya pendidikan anak usia dini. Hal ini nampak dengan berkembangnya tempat pendidikan anak usia dini formal, informal dan non-formal diseluruh Indonesia, dalam bentuk tempat penitipan anak, kelompok bermain atau tama bermain, taman kanak-kanak dan pendidikan anak usia sejenis. Jumlahnya masih tetap belum memadai jika diingat bahwa jumlah anak usia dini berjulah lebih kurang 21 juta orang. Oleh karena itu, perlu dipikirkan cara penyebarluasan yang benar, terutama di daerah-daerah terpencil dipedesaan dan daerah terlantar atau miskin diperkotaan yang penduduknya rata-rata secara ekonomis kurang mampu. Meski demikian perlu peningkatan mutu pada taman kanak-kanak dan pendidikan anak usia dini sejenisnya yang sudah ada dengan pemanfaatan sarana yang ada.

Prinsip-prinsip dasar adalah anggapan-anggapan (asumsi) yang sebaiknya dimiliki oleh pendidik sebagai dasar untuk melaksanakan tugasnya. Sebagai pendidik pendidikan anak usia dini, pendidik harus mempunyai asumsi dasar tentang anak yang akan kita kembangkan. Asumsi dasar ini harus selalu diingat oleh pendidik di dalam proses belajar mengajar karena hal tertsebut turut menetukan tujuan yang hendak dicapai oleh pendidik dalam satu tahun, keguatan mingguan maupun harian, dengan sarana yang akan digunakan, waktu pelaksanaan dan dalam pengorganisasian kelas. Asumsi-asumsi dasar itu adalah sebagai berikut :

Asumsi Dasar Mengenai Anak Usia 4- 6 tahun.
Secara pribadi setiap anak akan mengembangkan pola reaksi masing-masing terhadap rangsangan atau kejadian yang dialaminya dan setiap anak akan berkembang sesuai dengan tempo dan kecepatan masing-masing. Dengan demikian kecepatan perkemabngan seorang anak tidak selalu sejalan dengan kawan-kawannya maupun dengan usia kronologisnya.

Anak berkembang melalui beberapa tahapan
Pada pendidikan anak usia dini. Manusia merupakan suatu keutuhan dimana perkembangan aspek fisik, kognitif, afektif maupun intuitif saling berkaitan. Perkembangan itu sendiri merupakan rangkaian perubahan yang bersifat maju berkelanjutan, teratur, mulai dari yang global sebelum menuju kepada yang paling sederhana kemudian terarah ke yang majemuk.

Belajar bagi anak adalah segala sesuatu yang dikerjakannya ketika Ia bermain. Bermain adalah wahana belajar dan bekerja secara alamiah bagi anak. Anak usia dini senang memperhatikan, mencium, membuat suara, meraba dan mengecap. Lingkungan yang kaya yang banyak memberikan rangsangan mental dapat meningkatkan kemampuan belajar anak. Lingkungan demikian akan menumbuhkan minat anak dan menggiatkan mereka aktif belajar. Selai itu, anak akan lebih berhasil belajar jika apa yang dipegangnya sesuai dengan minat, kebutuhan dan kemampuannya. Anak lebih mudah belajar jika pengalaman belajar sejalan degan kematangan mental atau sesuai dengan perkembangannya. Pengalaman yang berlebihan akan menakutkan anak, tetapi sebaliknya pengalaman yang sangat minim akan membosankan anak.

Anda ingin mendapatkan materi di atas secara full content???, Anda bisa bergabung di Layanan Membership Kumpulan Tugas akhir / skripsi, Tesis, Tugas Kuliah Secara Online dan Full Content. Klik banner di bawah ini:

Share Your Thoughts